SBY Menyatakan Demokrasi Berada dalam Krisis jika Kudeta di Demokrat Berhasil

Suratkabarindo – Ketua Dewan Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai demokrasi berada dalam krisis besar jika upaya untuk mengambil alih kepemimpinan partainya berhasil.

Ini karena partai yang telah dibangun dan dibina selama puluhan tahun bisa diambil alih dengan uang dan kekuasaan.

“Krisis besar karena partai politik yang telah dibangun dan dibina selama puluhan tahun, dengan segala dinamika pasang surutnya, tiba-tiba dengan kekuatan uang dan kekuasaan bisa direbut dan diambil alih begitu saja,” kata SBY, dalam sebuah video dirilis pada Rabu (24 / 2/2021).

SBY mengatakan, jika terjadi kudeta di Partai Demokrat, maka hidup bernegara seperti hidup di hutan belantara. Yang kuat akan menang, yang lemah akan kalah. “Benar-benar salah nomor dua. Itu akan sangat melukai rasa keadilan.

Jika keadilan diinjak-injak, jangan mengharapkan perdamaian. Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian,” katanya. SBY pun membandingkan masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Dia mengaku sangat menghormati kedaulatan dan kemandirian partai politik, termasuk partai yang berpihak.

SBY juga menghormati pimpinan partai. “Saya menyadari bahwa parpol sebagai elemen penting dalam demokrasi dan kehidupan bernegara perlu dihormati kedaulatan dan kemandiriannya. Tidak boleh diintervensi oleh pihak manapun di luar partai,” kata SBY.

SBY berpandangan, jika kudeta berhasil, tak hanya pengurus pusat dari Partai Demokrat yang terkena imbasnya, tapi juga pengurus daerah hingga ke tingkat cabang.

“Mereka juga akan mudah melaksanakan PAW bagi anggota legislatif, baik pusat maupun daerah, sesuai selera dan keinginan pelaku gerakan,” kata SBY. Upaya kudeta di Partai Demokrat pertama kali diungkap Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhyono di pers, Senin (1/2/2021).

Saat itu, AHY menyebut ada gerakan yang ingin merebut kepemimpinan di Partai Demokrat dengan menggelar kongres luar biasa. Kemudian jadikan Demokrat sebagai kendaraan politik pada Pemilu 2024. togel online

Partai Demokrat menyebut gerakan itu melibatkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko serta sejumlah kader dan mantan kader. Nama-nama yang menonjol adalah Marzuki Alie, Muhammad Nazaruddin, dan anggota aktif Demokrat Jhoni Alen Marbun.

Moeldoko membantah tuduhan tersebut. Dia mengaku tidak berhak mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat karena bukan bagian dari internal partai.

By adminskit

suratkabarindo merupakan berita akurat , tajam dan terpercaya di indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *