Mahkamah Agung Tolak Kasasi Terpidana Mati Aulia Kesuma dan anak-anaknya

Suratkabarindo – Mahkamah Agung (MA) mengungkap alasan penolakan kasasi yang diajukan oleh Aulia Kesuma dan putranya Geovanni Kelvin, terdakwa dalam kasus pembunuhan tersebut.

Adapun atas putusan MA, Aulia dan Kelvin tetap divonis hukuman mati sesuai putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang kemudian dikukuhkan di tingkat kasasi. “Alasan para tergugat naik banding tidak bisa dibenarkan karena keberatan terdakwa tidak beralasan secara hukum,” kata juru bicara MA Andi Samsan Nganro saat dihubungi Kompas.com, Jumat (19/2/2021).

Selain itu, Mahkamah Agung menilai putusan pengadilan tingkat pertama yang kemudian dikuatkan oleh pengadilan tingkat banding tidak salah dalam menerapkan hukum. Andi menambahkan, judex facti juga dinilai tidak melebihi kewenangannya.

Sebagai informasi, judex facti mengacu pada peran hakim yang mengadili fakta hukum. Di Indonesia, kewenangan ini berada di pengadilan negeri dan pengadilan tinggi. Selain itu, hukuman mati yang dijatuhkan kepada kedua terdakwa dinilai sesuai dengan tingkat kesalahannya.

Tidak ada keadaan yang bisa meringankan para terdakwa, kata Andi. Kabarnya, permohonan kasasi Aulia dan Kelvin didaftarkan dengan perkara nomor 8 K / Pid / 2021. Putusan MA tersebut berdasarkan hasil musyawarah majelis hakim yang terdiri dari Andi Samsan Nganro sebagai ketua, Gazalba Saleh. , dan Eddy Army, pada 3 Februari 2021.

Dalam kasus ini, Aulia dan Kelvin dijatuhi hukuman mati karena terbukti ikut serta dalam pembunuhan berencana. Korban adalah suami Aulia, Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili dan anak tirinya, Muhammad Edi Pradana alias Dana. togel online

Kasus tersebut bermula saat Aulia merasa sakit hati terhadap Pupung. Aulia mengaku harus bekerja keras sendirian dalam menopang perekonomian keluarganya. Menurut Aulia, Pupung sudah tidak bekerja sejak menikah pada 2011. Mereka juga kerap bertengkar karena hal-hal sepele.

Masalah berikutnya muncul ketika Aulia memutuskan untuk meminjam Rp 10 miliar dari bank pada 2013.

Aulia stres dan berniat bunuh diri karena merasa kesulitan membayar cicilan yang digunakan untuk membuka restoran. Aulia berharap rumah Pupung di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, bisa dijual untuk melunasi utangnya.

Namun, Pupung tidak mengijinkan usulan tersebut. Dalam menjalankan aksinya, Aulia kemudian dibantu oleh anak kandungnya, Kelvin, dan para pembunuh bayaran.

By adminskit

suratkabarindo merupakan berita akurat , tajam dan terpercaya di indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *