Kisah Mantan Pemimpin Redaksi kaget pamflet Aisha Weddings disisipkan di harian Kompas

Suratkabarindo – Mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudy mengaku kaget saat mendapat kabar selebaran atau pamflet pernikahan Aisha disisipkan di koran Kompas.

Ninuk, pamflet itu diselipkan tanpa sepengetahuan Harian Kompas. Pernikahan Aisha menjadi perbincangan netizen setelah dicurigai sebagai pernikahan anak.

“Lalu tentunya kita semua kaget sama sekali tanpa sepengetahuan Kompas dan isinya jelas-jelas melanggar UU, UU Perlindungan Anak atau UU Perkawinan,” ujar Ninuk dalam diskusi virtual yang digelar Setara Institute dan Sahabat Milenial Indonesia. Sabtu (13/2) / 2021).

Ninuk mengatakan, dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perkawinan ditegaskan bahwa minimal usia pasangan suami istri adalah 19 tahun.

Ia mengatakan, harian Kompas selalu berisi perkawinan anak dan kekerasan seksual. Bahkan, ia menjadi saksi ahli saat RUU Perkawinan di Mahkamah Konstitusi (MK). Sedikit demi sedikit, Ninuk mempertanyakan motif masuknya pamflet Nikah Aisha di koran Kompas.

“Jadi pertanyaan sebenarnya adalah, apakah itu benar,” kata Ninuk, yang kini berprofesi sebagai Editor Senior. Lebih lanjut, Ninuk mengaku prihatin dengan praktik kawin anak di daerah. Ia mengatakan, Kompas selalu mengingatkan bahwa pernikahan anak melanggar hak anak dan hak asasi manusia.

“Pemerintah daerah (harus) menggencarkan kampanye untuk tidak menikah di usia anak-anak,” pungkasnya. Sebelumnya, di media sosial Twitter beredar selebaran atau pamflet Aisha Wedding yang disisipkan di koran Kompas.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan Wedding Organizer (WO) Aisha Wedding ke polisi atas dugaan mempromosikan pernikahan anak. “KPAI melaporkan dugaan pelanggaran terkait hak anak dalam UU Perlindungan Anak dan UU Perkawinan,” kata Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati dalam siaran Kompas TV, Rabu (10/2/2021) sore.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menegaskan, promosi yang dilakukan Aisha Wedding yang mengedepankan pernikahan anak melanggar hukum. Pasalnya, promosi ini dilakukan di tengah upaya pemerintah untuk menurunkan angka pernikahan anak. togel online

Padahal, Kementerian PPPA sedang gencar menggalakkan Gerakan Bersama Pencegahan Pernikahan Anak ke tingkat desa. “Promosi Pernikahan Aisha melanggar hukum. Tindakan ini telah mengurangi upaya pemerintah untuk menekan angka pernikahan anak yang berdampak sangat merugikan bagi anak, keluarga dan negara,” kata Bintang, dikutip dari siaran pers, Rabu (10/2/2021).

Menurutnya, Aisha Weddings selama ini mengkampanyekan pernikahan di usia muda dan menjual jasa wedding event organizer yang tidak peduli dengan nasib anak Indonesia. Karenanya, pihaknya akan menindaklanjuti kasus tersebut dengan serius.

“Kami akan mempelajari kasus ini dan berkoordinasi dengan pihak terkait, beberapa kementerian / lembaga dan LSM. Saya juga berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Kapolri agar bisa dilakukan penyidikan lebih lanjut,” kata Bintang.

By adminskit

suratkabarindo merupakan berita akurat , tajam dan terpercaya di indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *