Ini Kesamaan dan Beda Meteor Jatuh di Lampung, Bali dan Tapanuli Tengah

Suratkabarindo – Menurut ahli, fenomena meteor jatuh di Lampung hampir sama dengan yang terjadi di Bali dan Tapanuli Tengah.

Sebagai catatan, beberapa hari lalu, jatuhnya meteorit yang terjadi setelah ledakan keras sempat menghebohkan warga Dusun 5 Astomulyo, Desa Mulyodadi, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah.

Meteorit tersebut ditemukan di dapur Munjilah, 60, warga setempat, Kamis (28/1/2021). Sebelumnya, sejumlah warga Buleleng, Provinsi Bali, melaporkan adanya jejak cahaya di langit serta suara dentuman yang terdengar jelas pada 24 Januari 2021 sekitar pukul 11.00 WITA.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menduga ledakan kuat di Bali adalah meteor yang jatuh.

Meski meteorit penyebab ledakan tersebut hingga kini belum ditemukan. Astronom amatir Indonesia Marufin Sudibyo mengatakan, jatuhnya meteorit di Lampung sama dengan jatuhnya meteorit di Bali, 24 Januari 2021.
Namun, ternyata meteor jatuh yang menimbulkan dentuman keras sebenarnya bukan satu-satunya kali hal tersebut terjadi. Pasalnya, sebelumnya pernah terjadi di Tapanuli Tengah pada 1 Agustus 2020.

Sebagai informasi, jatuhnya meteorit di Tapanuli Tengah pada tahun 2020 diperoleh dengan nama Josua Hutagalung (33), warga Dusun Sitahan Barat, Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dimana, saat Josua sedang bekerja membuat peti mati, Sabtu (1/8/2020) sekitar pukul 16.00 WIB, ia mendengar suara gemuruh dari langit padahal saat itu kondisi cuaca cerah.

Tidak lama kemudian, Josua dikejutkan dengan suara dentuman keras yang melanda bagian rumahnya yang diduga meteor jatuh, dan akhirnya menemukan batu seberat 2,2 kg dan terkubur sekitar 15 cm di dalam tanah.

Kemiripan peristiwa meteor jatuh di Indonesia

Marufin menuturkan, peristiwa jatuhnya meteor di tiga lokasi tersebut memiliki kesamaan, yakni dari meteoroid berukuran besar.

“Semuanya merupakan hasil masuknya meteoroid besar (diameter lebih dari 1 meter) ke atmosfer bumi,” kata Marufin kepada Kompas.com, Senin (1/2/2021). Kemudian, meteroid besar mengalami perlambatan akibat terciptanya tekanan ram dengan masuknya massa meteor ke lapisan udara yang lebih padat.

Dengan demikian, pada satu titik, umumnya pada ketinggian antara 30 dan 40 km di atas permukaan bumi, terjadi pelambatan maksimum yang mengakibatkan pelepasan hampir semua energi kinetik meteor sebagai peristiwa mirip ledakan di udara (airburst). ).

Airburst menemukan massa meteor sebagai fragmen dengan berbagai ukuran dan debu mikroskopis. “Sebagian kecil dari pecahan tersebut kemudian akan mendarat di Bumi sebagai meteorit,” katanya. togel online

Perbedaan meteor jatuh di Indonesia

Marufin menjelaskan, pada peristiwa di Tapanuli Tengah tahun 2020 lalu, meteorit yang jatuh merupakan meteorit kondritik karbonan, yaitu meteorit aerolit yang kaya karbon.

Tiga meteorit ditemukan di daerah berbentuk oval yang disebut strewnfield, yang membentang dari desa Kolang ke tenggara sejauh 8 kilometer.

“Pada peristiwa 2021, meteorit tersebut tidak ditemukan karena kemungkinan besar jatuh ke laut atau ke daerah yang tidak berpenghuni,” jelasnya. Sedangkan meteorit jatuh di Lampung pada tahun 2021 dan meteorit tersebut adalah meteorit siderolit.

Sejauh ini, dua batu meteorit telah ditemukan dan kemungkinan ada juga daerah ladang yang terbentang dari Desa Astomulyo ke utara.

By adminskit

suratkabarindo merupakan berita akurat , tajam dan terpercaya di indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *