Demonstrasi kudeta Myanmar memanas, polisi menembakkan peluru karet, melukai 3 orang di kepala

Suratkabarindo – Polisi menembakkan peluru karet ke pengunjuk rasa anti kudeta di ibu kota Myanmar pada Selasa (9/2/2021), saat protes memanas.

Demonstrasi anti kudeta Myanmar telah berlangsung selama empat hari terakhir, meskipun ada peringatan dari militer bahwa mereka akan mengambil tindakan terhadap siapa pun yang mengancam stabilitas.

Di Naypyidaw, ibu kota yang dibangun khusus dari rezim militer sebelumnya, saksi mata mengatakan polisi menembakkan peluru karet ke arah demonstran setelah menyemprot mereka dengan meriam air.

“Mereka melepaskan tembakan peringatan ke atas dua kali, kemudian menembak (ke arah pengunjuk rasa) dengan peluru karet,” kata seorang warga kepada AFP.

Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa sebuah klinik di Naypyidaw sedang merawat tiga orang yang terluka akibat peluru karet. Dokter yang merawat mereka mengatakan kepada Reuters bahwa klinik tersebut menyediakan perawatan pertama sebelum pasien dengan cedera kepala dibawa ke rumah sakit.

Wartawan AFP di lapangan mengonfirmasi tembakan telah dilepaskan. Menyusul demonstrasi Myanmar oleh ratusan ribu orang yang menentang kudeta minggu lalu, pemimpin militer Jenderal Min Aun Hlaing berpidato di televisi pada Senin malam untuk membenarkan perebutan kekuasaan.

Jenderal itu menegaskan, kudeta harus dilakukan karena ada kecurangan saat pemilu. Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menang telak dalam pemilihan umum Myanmar pada November tahun lalu, tetapi militer belum mengakuinya.

Sekarang militer Myanmar telah melarang pertemuan lebih dari lima orang di Yangon, ibu kota komersial negara itu, serta Naypyidaw dan daerah lain yang dilanda demonstrasi. Jam malam juga diberlakukan di lokasi utama tempat protes meletus.

Para demonstran membawa tanda bertuliskan, “Kami ingin pemimpin kami” mengacu pada Aung San Suu Kyi yang ditahan oleh militer, serta “Tidak ada kediktatoran”. togel online

Sejumlah guru juga mengikuti demonstrasi di San Chaung Yangon, mengacungkan salam tiga jari yang menjadi simbol demonstrasi. “Kami tidak peduli dengan peringatan mereka.

Itulah mengapa kami pergi hari ini. Kami tidak dapat menerima alasan mereka untuk penipuan pemilu. Kami tidak ingin kediktatoran militer,” kata guru Thein Win Soe kepada AFP.

By adminskit

suratkabarindo merupakan berita akurat , tajam dan terpercaya di indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *