China memblokir upaya Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk kudeta di Myanmar

Suratkabarindo – China dilaporkan memblokir upaya Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk kudeta yang terjadi di Myanmar.

Kabar tersebut muncul setelah dewan mengadakan rapat tertutup untuk membahas perkembangan di “Negeri Seribu Pagoda”. Pada Senin (1/2/2021), Tatmadaw atau militer Myanmar melakukan kudeta dengan menangkap sejumlah pemimpin sipil.

Di antara para pemimpin yang ditangkap adalah Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan pejabat Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) lainnya.

Tatmadaw kemudian membentuk pemerintahan sementara, dengan Jenderal Senior Min Aung Hlaing memiliki mandat tertinggi. Di kota besar seperti Yangon, tanda-tanda bahwa orang tidak akan mematuhi Tatmadaw dan melawan balik mulai terlihat.

Dalam rapat tertutup, Dewan Keamanan PBB gagal mengeluarkan pernyataan bersama karena China menggunakan hak vetonya.

Pernyataan bersama membutuhkan dukungan dari “Negara Panda”, yang saat ini menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Sebelumnya, Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Christine Schraner mengecam manuver yang dilakukan oleh Tatmadaw.

Kata Schraner. TNI jelas tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka kalah dalam pemilu pada 8 November 2020.

“Jelas hasil pemilu terakhir adalah kemenangan besar bagi partai Aung San Suu Kyi,” kata Schraner.

Mengapa China memblokir kecaman Dewan Keamanan PBB?

Pakar Universitas Nasional Myanmar Singapura Elliott Prasse-Freeman mengatakan Beijing tampaknya memberikan dukungan diam-diam.

“Mereka tampaknya mencoba memasukkan masalah ini ke dalam masalah internal Myanmar, dan kami hanya menyaksikan ‘perombakan kabinet’,” kata Prasse-Freeman. Dilansir BBC, Rabu (3/2/2021), ia menjelaskan meski tidak berdampak signifikan, pernyataan DK PBB tersebut bisa menyatukan respons dunia. togel online

Sebastian Strangio, editor The Diplomat menjelaskan, langkah China tersebut sejalan dengan sikap skeptisnya terhadap intervensi internasional.

“Negeri Panda” sebelumnya memperingatkan bahwa tekanan dan sanksi dunia hanya akan memperburuk negara Asia Tenggara ini. Meskipun telah menghalangi upaya Barat untuk menghukum Naypyidaw, Strangio mengatakan itu tidak berarti mereka senang dengan kudeta tersebut.

Menurut Strangio, selama ini Beijing banyak berinvestasi untuk membangun hubungan baik dengan pemerintahan Aung San Suu Kyi. “Oleh karena itu, kembalinya militer berarti China harus berurusan dengan institusi yang paling mencurigakan niat mereka,” jelasnya.

By adminskit

suratkabarindo merupakan berita akurat , tajam dan terpercaya di indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *